PERAN MAHASISWA DALAM PENDIDIKAN INDONESIA

Agent of Social Change ( Agen Perubahan Sosial )

Pendidikan merupakan suatu aspek paling penting dalam peradaban bangsa. Dengan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter dapat dipastikan sebuah bangsa dapat mengoptimalkan pembangunannya. Masalah – masalah sosial seperti kemiskinan, pengangguran, yang berdampak pada kelaparan, gelandangan dan masalah lainnya bukan tidak mungkin bahkan diyakini dapat teratasi oleh sistem pendidikan yang saling berkesinambungan (terintegrasi) dan memiliki Visi/tujuan yang jelas.

Menurut bincang – bincang Masyarakat para pemuda – pemudi adalah bibit atau tunas emas suatu bangsa apalagi tentang para Mahasiswa selaku insan akademis, dilirik mempunyai kekuatan intelektual yang lebih sehingga kepekaan dan nalar yang rasional dapat diharapkan bisa memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pendidikan dan sosial di masyarakat. 

Di era sekarang Indonesia sudah mencapai kemerdekaan kurang lebih 72 tahun, dan telah terbebaskan dari kata para penjajah dan pemberdayaan manusia yang diakui dunia. Namun, pada realitanya kejahiliyahan dalam pembangunan pendidikan masih sangat nampak dalam problema ‘Indonesia Merdeka’. Nyatanya masih sangat terpampang jelas dimata kita saat anak – anak di usia sekolah sedang memegang gitar dan menyanyikan lagu untuk mendapat satu sen rupiah pada saat harusnya mereka bersekolah, sungguh miris negri ini. Mengapa bisa terjadi demikian? Yang katanya dunia pendidikan indonesia gratis namun realitanya masih ada anggaran yang harus dibayar, pajak bangunan, fasilitas, dan sebagainya. Anggaran pendidikan di APBN hanya 8% terlihat minim bila dibandingkan dengan jatah pembayaran hutang negara yang mencapai 25%. Padahal di negara – negara eropa pendidikan Murah bahkan gratis sudah terwujud.

Bahkan para tokoh terkenal pun sangat mempercayakan pembangunan bangsa pada jiwa mahasiswa, ‘ dalam perjalanan bangsa kita, peran pemuda dan mahasiswa memiliki peran nomer satu, untuk mendirikan dan mempertahankan’, ujar Tito saat memberikan sambutan, di sekolah tinggi Ilmu Kepolisian atau STIK, jalan tirta yasa raya kebayoran baru, Jakarta Selatan, Jumat (28/07/2017) 

Berbicara tentang perubahan soasial atau ‘agent of social change’ dimana masyarakat sangat mengharapkan perubahan pembangunan pendidikan Indonesia lebih maju lagi dan mengedepankan kepentingan pendidikan untuk kalangan menengah kebawah, karena banyak sekali anak-anak Indonesia yang terlantar untuk masalah pendidikan, maka dari itu perlu kontribusi yang sangat besar untuk para mahasiswa.

Melalui salah satu gerakan mahasiswa yang aktif dalam pendidikan jalanan dapat menjadi salah satu faktor untuk memajukan pendidikan di indonesia dan mengurangi buta huruf dan para difabel yang itu merupakan faktor utama dalam mengurangi kemiskinan bangsa ini. Peran mahasiswa dalam masyarakat sekarang ini sangat dibutuhkan sekali mengingat pendidikan di masa sekarang ini khususnya di level masyarakat sedang mengalami kemunduran karena faktor pemuda masyarakat sekarang ini yang terpengaruh oleh kebiasaan – kebiasaan modern dan pergaulan bebas. Dan kebiasaan masyarakat yang lebih suka proses kilat ditimbang suatu usaha panjang. 

Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang menumpas kejahatan – kejahatan dan melawan musuh bersenjata, akan tetapi dalam artian kita tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan menjadi objek atau pelaku dari perubahan tersebut. 
Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gundah Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa mahasiswa harus menjadi ‘penggagas’ terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri, lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita harapkan, yaitu bangsa ini. 

Sadar ataupun tidak, telah banyak pembodohan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Kita sebagai mahasiswa seharusnya berpikir untuk mengembalikan dan mengubah semua ini. Perubahan yang dimaksud tentu perubahan kearah yang positif dan tidak menghilangkan jati diri kita sebagai mahasiswa dan Bangsa Indonesia.

NAMA : IBNI SULTHON
NIM     : 1101617013
PRODI : TEKNOLOGI PENDIDIKAN
BIO      : BADAN KURUS DAN BERAMBUT PIRANG

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Domain Afektif ( Contoh dalam diri )

Domain Kognitif ( C1 - C6 )

Pembelajaran sebagai sistem